Pentingnya Tracer Studi dalam Mengukur Keberhasilan dan Kualitas Alumni

Pentingnya Tracer Studi dalam Mengukur Keberhasilan dan Kualitas Alumni

Kualitas sebuah perguruan tinggi dapat dinilai dari berbagai macam aspek. Salah satunya adalah dengan menilai ‘produk akhir’ dari perguruan tinggi tersebut, yaitu lulusan atau alumni. Dalam konteks itu, setiap perguruan tinggi termasuk Universitas Islam Indonesia (UII) memiliki kepentingan untuk mengetahui kualitas alumninya. Hal ini sangat relevan, karena keberhasilan para alumni UII di dalam kehidupan bermasyarakat sangat mempengaruhi reputasi UII di mata masyarakat.

Untuk mengukur keberhasilan dan kualitas alumni, Direktorat Pemasaran, Kerjasama, dan Alumni Universitas Islam Indonesia (DPKA UII) beberapa waktu lalu melakukan kegiatan tracer study dalam rangka menjaring informasi lulusan UII dua tahun ke belakang. Kegiatan tracer study bertujuan untuk mengetahui hasil dari proses pendidikan tinggi di UII dalam menempuh masa transisi dari dunia pendidikan tinggi ke dunia usaha dan industri. Hasil dari proses pendidikan tinggi di UII tersebut adalah berupa penilaian diri terhadap penguasaan kompetensi para alumni, kontribusi UII terhadap penguasaan kompetensi tersebut, serta penggalian informasi lebih lanjut kepada para alumni sebagai bahan masukan bagi perbaikan UII di masa yang akan datang.

Seperti dilaporkan oleh Kepala Divisi Penelusuran & Pemberdayaan Alumni Baziedy Aditya Darmawan SE., MM., pada Diseminasi Hasil Tracer Studi, Jum’at lalu (31/12) bertempat di Ruang Sidang Utama Lantai 4 Rektorat UII, Gedung GBPH Prabuningrat,  bahwa responden yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini mencapai 1.906 orang, didominasi oleh alumni yang Bekerja sebanyak 59,36%, Studi Lanjut 25,94%, Wirausaha 11,44% dan Tidak Bekerja 3,27%.

Sementara itu untuk kategori waktu tempuh studi, sebanyak 73% adalah alumni yang lulus tepat waktu, sisanya 27% tidak lulus tepat waktu. “Terhambatnya penyusunan tugas akhir menjadi alasan utama yang mendominasi penyebab responden tidak lulus tepat waktu. Hal ini perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses penyusunan tugas akhir guna mempercepat proses agar meningkatkan tingkat kelulusan tepat waktu,” ungkapnya.

Kemudian dalam hal responden yang bekerja, sebanyak 20,53% dari total responden mendapatkan pekerjaan dengan masa tunggu 1 bulan, yang mana merupakan jumlah terbanyak berdasarkan masa tunggu dalam bulan. Selain itu, sebanyak 15,40% lainnya memiliki masa tunggu 0 bulan, dengan kata lain responden telah memperoleh pekerjaan sebelum masa kelulusan. Sementara responden yang menunggu selama 2 bulan dan 3 bulan masing-masing sebanyak 10,35% dan 12,39%. Total responden yang memiliki masa tunggu kurang dari sama dengan 3 bulan adalah sebanyak 58,67%.

sumber : uii.ac.id